daftar pengunjung

Jumat, 16 April 2010

Gejolak Emosi Remaja

Pengertian Emosi
Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak.

Emosi adalah warna afektif yang kuat dan disertai oleh perubahan-perubahan pada fisik.Pada saat terjadi emosi sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain :

1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa
5. Pupil mata : membesar bila marah
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang
7. Bulu roma : berdiri kalau takut
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang
9. Otot : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang
10. komposisi darah : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.

Karakteristik Emosi Remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.

Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.

• Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif

• Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.

Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :

1. Belajar dengan coba-coba
Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.

2. Belajar dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.

3. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.

4. Belajar melalui pengkondisian
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.

5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.

Anak memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati berakhirnya remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang dan telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi yang ditunjukan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan. Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan kemarahan, dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa, sepertinya ia merasa senang.

Para remaja semasa kanak-kanak, mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya terhadap orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat kehilangan atau tidak merasakan lagi.

Dengan bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.

Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi Remaja
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.

Dan perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu mengendalikan emosi.

Dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum terdapat di kalangan keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan kemarahan lebih umum dan lebih kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga yang sama.

Cara mendidik yang otoriter mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara mendidik yang permisif atau demokratis mendorong berkembangnya semangat dan rasa kasih sayang. Anak-anak dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi tinggi.

Hubungan Antara Emosi Dan Tingkah Laku
Rasa takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama pemunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak senang akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.

Peradangan di dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi. Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Banyak situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tenang.

Seorang siswa tidak senang kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas. Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar. Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.

Reaksi setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak. Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan mempermudah siswa dalam belajar.

Dampak Makanan siap saji .

Dampak
Makanan Siap Saji Bagi Tubuh

PERUBAHAN gaya
hidup dan perilaku makan telah menimbulkan masalah gizi ganda yaitu
masalah gizi lebih dan gizi kurang dengan berbagai risiko penyakit
yang ditimbulkannya. Sekarang ini makanan siap saji merupakan makanan
yang paling banyak dikonsumsi, dan banyak menimbulkan pro dan kontra.

Dari satu sisi
ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah, makanan siap saji
memberikan keuntungan dan kemudahan dalam penyajian. Akan tetapi,
makanan siap saji yang dipasarkan saat ini menggunakan berbagai BAHAN
aditif yang bertujuan untuk mengawetkan dan memberikan citarasa yang
lebih baik pada produknya.
Kekhawatiran
yang muncul akibat adanya bahan aditif ini adalah adanya efek negatif
dari bahan tersebut yang berdampak pada kesehatan konsumen. Selain
dari bahan aditif, efek tersebut juga dapat berasal dari kemasan yang
digunakan. Efek negatif yang dapat terjadi antara lain dihubungkan
dengan penyakit degeneratif.

Upaya pencegahan
dampak negatif dapat dilakukan secara internal yaitu peranan ibu
rumah tangga dalam penyajian pangan lebih mengutamakan makanan
tradisional yang sehat, sedangkan upaya eksternal adalah meningkatkan
kepedulian pemerintah, LSM, dan produsen terhadap bahaya zat aditif
makanan siap saji.
Kemajuan ilmu
dan teknologi berkembang dengan pesat di berbagai bidang, termasuk
bidang pangan, kemajuan teknologi ini membawa dampak positif maupun
negatif. Dampak positif teknologi tersebut mampu meningkatkan
kuantitas dan kualitas pangan, juga meningkatkan diversifikasi,
higienitas, sanitasi, praktis dan lebih ekonomis. Dampak negatif
kemajuan teknologi tersebut ternyata cukup besar bagi kesehatan
konsumen dengan adanya penggunaan zat aditif yang berbahaya.
Pola kehidupan
masa kini dicirikan dengan tingginya biaya hidup, emansipasi atau
karena alasan lain menyebabkan wanita bekerja di luar rumah. Data
statistik tahun 2002 menunjukkan, wanita yang bekerja pada angkatan
kerja berjumlah 33,06 juta atau 44,23% dari jumlah total usia wanita
antara 15-60 tahun (BPS, 2002).

Wanita sebagai
ibu rumah tangga dan sebagian lain berprofesi bekerja di luar rumah,
karena keterbatasan waktu dan kesibukan, serta sulitnya mencari
pramuwisma menyebabkan makanan siap saji menjadi menu utama
sehari-hari di rumah. Ritme kehidupan yang menuntut segala sesuatu
serbacepat, waktu terbatas, anak harus pergi sekolah sementara ibu
dan bapak harus segera berangkat kerja, sebagai jalan pintas untuk
sarapan disediakanlah makanan siap saji yang memakan waktu penyiapan
3 sampai 5 menit. Siang hari pulang sekolah ibu dan bapak masih
bekerja di kantor, anak-anak kembali menikmati makanan siap saji ini.
Selain mudah disajikan makanan ini umumnya mempunyai cita rasa yang
gurih dan umumnya disukai, terutama anak-anak usia sekolah.

Masalah lain
yang jadi fenomena di masyarakat adalah tersedianya berbagai jajanan
yang dikemas dapat dipastikan “kaya” zat aditif. Tercatat 13
jenis camilan ringan (snack) mengandung bahan aditif
dalam kandungan yang cukup tinggi. Pertanyaan yang muncul adalah
sejauh manakah bahan-bahan aditif tersebut terkonsumsi dan
terakumulasi dalam tubuh? Bagaimana dampaknya bagi kesehatan? Dan
bagaimana tindakan konsumen terutama ibu-ibu rumah tangga dalam
memilih, mengolah makanan yang aman, higienis, cukup gizi dan
menyehatkan anggota keluarganya?
Berdasarkan
pertanyaan tersebut, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
memberikan informasi lebih lanjut terhadap bahaya zat aditif dan
kemasan pada makanan siap saji terhadap kesehatan konsumen.
Makanan
siap saji
Makanan siap
saji yang dimaksud adalah jenis makanan yang dikemas, mudah
disajikan, praktis, atau diolah dengan cara sederhana. Makanan
tersebut umumnya diproduksi oleh industri pengolahan pangan dengan
teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat aditif untuk mengawetkan
dan memberikan cita rasa bagi produk tersebut. Makanan siap saji
biasanya berupa lauk pauk dalamkemasan, mi instan, nugget,
atau juga corn flakes sebagai makanan untuk sarapan.

Zat aditif
adalah bahan kimia yang dicampurkan ke dalam makanan dengan tujuan
untuk meningkatkan kualitas, menambahkan rasa dan memantapkan
kesegaran produk tersebut. Menurut Majeed (1996), zat aditif dapat
dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan tujuan penggunaannya,
yaitu: agen emulsi yaitu aditif yang berbahan lemak dan air semacam
lesitin, agen penstabil dan pemekat contohnya alginat dan gliserin,
agen penghalang kerak untuk mencegah penggumpalan, agen peningkatan
nutrisi contohnya berbagai vitamin, agen pengawet contohnya garam
nitrat dan nitrit, agen antioksidan contohnya vitamin C dan E ; BHT
(Butylated Hydroxy-Toluen) dan BHA (Butylated
Hydroxy-Anisol), agen pengembang untuk roti dan bolu, agen
penyedap rasa semisal monosodium glutamat (MSG), bahan
pewarna.

Selain sembilan
zat aditif tadi, Denfer (2001) juga menyatakan terdapat bahan lain
yang ditambahkan dalam makanan di antaranya: agen peluntur, lemak
hewani, bahan pengasam, bahan pemisah, pati termodifikasi, alkohol,
dan gelatin.(Berbagai sumber)***